Quick Access Doctor

Nilai Normal Tes Darah Rutin

Hb pada laki-laki

Hb pada perempuan

http://docs.google.com/gview?url=http://https://aufarza.files.wordpress.com/2017/07/pedoman-interpretasi-data-klinik.pdf&embedded=true

Pedoman-Interpretasi-Data-Klinik

Nilai Normal Tes Urin

Keton

Glukosa

Protein

Eritrosit

Nilai Normal Lain

Gula Darah Acak

Gula Darah PP

Gula Darah Puasa

Iklan

Biografi Habib Ahmad bin Ismail Alaydrus

Beliau adalah seorang tokoh yang bersahaja dan sangat ramah. Habib Ahmad bin Ismail lahir di Banda Aceh pada 25 April 1966 hari senin dari pasangan Sayyid Ismail bin Abdul Wahab bin Mahmud Al-Aydrus dan Zahara binti Hamid bin Abdullah Barawas. Dimana baik dari jalur sebelah Ayah dan Ibu sama-sama berasal dari golongan Arab Hadramaut. Habib Ahmad menjalani masa kecil di Jakarta dikarenakan pada usia 1(satu) tahun kedua orang tuanya berhijrah dari Aceh ke Jakarta.

Habib Ahmad menjalani pendidikan dasar sampai menengah di Jakarta kemudian melanjutkan pendidikan di Cairo University di Mesir dan setelah itu mengambil program Diploma ke Amerika Serikat di Golden gate University. Beliau pernah berkerja dibeberapa perusahaan International di bidang ekspor impor gula (Sugar Trader) sampai memutuskan untuk mendirikan Majelis Ratib Habib Ahmad Al-aydrus di Tapos, Jawa Barat.

Habib Ahmad Bin Ismail Al-AydrusMenurut keterangan keluarga dan anak murid beliau, Habib Ahmad bin Ismail Al-Aydrus mengalami sebuah peristiwa yang sangat jarang dialami oleh manusia pada kebanyakannya dimana dimulai pada pagi sekitar jam 5.00 Wib pada tanggal 11 Maret 1998, beliau melihat langit terbuka berserta pintu langit sebanyak 7 buah pintu dari pintu tersebut keluar ribuan orang dan kemudaian salah satu dari mereka membai’at Habib Ahmad dan memberikan ucapan selamat.

Setelah setahun peristiwa tersebutlah, beliau mendapatkan ikhtibar untuk membuka Majelis Ratib Habib Ahmad Al-Aydrus dengan murid yang berjumlah enam (6) orang yakni : Dahlan, Toha, Thahir, Sayyid Ahmad zulfikar bin Hadi Al-Haddar, Sayyid Abdullah Risyad bin Ismail Al-Aydrus dan Ustad Haris. Dimana pada saat itu beliau sedang pada pucak untuk menuju kesuksesan di dunia ekspor impor gula, tapi beliau tinggalkan untuk mengembang tugas amal ma’ruf nahi munkar.

Nasab dan Keluarga

Habib Ahmad merupakan keturunan dari pada keluarga Al-Aydrus Shalaibiyah, dimana nasab beliau sebagai berikut : Ahmad Reza bin Ismail bin Abdul Wahab bin Mahmud bin Ahmad bin Idris bin Mahyuddin bin Umar bin Sayyidina Zainal Abidin As-Syarif Husein (Syarif Keumala) bin Abdullah bin Umar bin Ahmad bin Abdullah bin Muhammad bin Abdullah bin Imam Ali Shahib Surat bin Abdullah bin Ahmad As-Shalaibiyah bin Husein bin Abdullah bin Syeikh bin Sultanul Aulia Al-Imam Abdullah Al-Aydrus Al-Akbar bin Imam Abu Bakar As-Sakran bin Imam Abdurrahman As-Assegaf bin Imam Muhammad Mauladawilah bin Imam Ali bin Imam Alwi bin Al-Imam Al-Faqih Muqaddam Muhammad bin Imam Ali bin Imam Muhammad Shahibul Mirbath bin Imam Ali Khali’ Qasam bin Imam Alwi bin Imam Muhammad bin Imam Alwi bin Imam Abdullah (Ubaidillah) bin Imam Ahmad Al-Muhajir bin Imam Isa Ar-Rumi bin Imam Muhammad An-Naqib bin Imam Ali Uraidhi bin Imam Ja’far Shadiq bin Imam Muhammad Al-Baqir bin Imam Ali Zainal Abidin bin Sayyidina Husein Ra bin Sayyidina Ali wa Sayyidah Fatimah binti Rasulullah S.A.W.

Keluarga Al-Aydrus Salabiyah merupakan bagian keluarga Sayyid Hadramaut yang banyak berhijrah keluar Hadramaut diantaranya Imam Ali bin Abdullah Shahib Surat di India, Habib Abdullah din Umar di Pidie (Aceh), Habib Zain bin Abdullah di Condet (Jakarta) dan Keluarga Shalaibiyah lainnya yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Dimana Habib Ahmad merupakan keturunan Habib Abdullah bin Umar yang datang ke Pidie pada akhir abad ke-18 dan kakek beliau yang masyhur di Aceh adalah Syarif Keumala Sayyidina Zainal Abidin As-Syarif Husein bin Abdullah bin Umar Al-Aydrus.

Habib Ahmad menikah dengan Syarifah Nur Fitriyanti binti Abdurrahman bin Saleh bin Hasyem Al-Habsyi yang berasal dari Ujung Pandang, dimana beliau dianugerahi 2 orang putra dan 1 orang putri yakni Sayyid Ali, Sayyid Husein dan Syarifah Khadijah.

Hambatan Dakwah 

Habib Ahmad mengikuti langkah-langkah datuknya yakni berdakwah untuk menegakkan ruh Islam diseluruh dunia. Beliau pada tahun 1999 mendirikan Majelis Ratib yang bertujuan untuk amar ma’ruf nahi mungkar, dimana dalam perjalanan mendapatkan banyak rintangan diantaranya :

  1. Difitnah Bukan Sayyid Tetapi Keturunan India 

Fitnah merupakan sesuatu yang sangat keji dan sangat di benci oleh Allah SWT. Asal mula munculnya fitnah kepada Habib Ahmad dan keluarga dimulai dari ketidak senangan beberapa keluarga Sayyid di Jakarta terhadap keluarga Habib disebabkan beberapa perselisihan diantara keluarga mereka dengan keluarga Habib Ahmad.

Alasan mengatakan keluarga Habib Ahmad adalah Keturunan India dikarena beliau mempunyai hubungan dengan keluarga Ibrahim Hasan (Mantan Gubernur dan Menteri Pangan dan Bulog) yang berasal dari Kampung Gigieng, Simpang Tiga, Pidie. Hasil investigasi Tim Asyraf Aceh di Gigieng Simpang Tiga, Tim Asyraf Aceh tidak mendapatkan bukti-bukti yang menunjukan bahwa Habib Ahmad memiliki hubungan secara dari jalur ayah dengan Ibrahim Hasan.

Fakta yang ditemukan di lapangan justru bahwa keluarga Habib Ahmad memiliki hubungan keluarga dengan Ibrahim Hasan melalui jalur sebelah nenek perempuannya yang bernama Khadijah At-Tamimi yang bersaudara dengan ibu Ibrahim Hasan, jadi jelas bahwa mereka memang keluarga tetapi bukan melalui jalur ayah atau laki-laki.

Selanjutnya, juga ada yang menfitnah beliau bahwa beliau mengambil silsilah keluarga Al-Habsyi. Ketika Tim Asyraf Aceh melakukan investigasi terhadap keluarga Habib Ahmad di Aceh di dapatkan kejelasan bahwa beliau merupakan keluarga Sayyid yang berasal dari keluarga Al-Aydrus Shalabiyah. Dimana ayah beliau Sayyid Ismail bin Abdul Wahab lahir di Dayah Lampoh Awe, Simpang Tiga, Kabupaten Aceh Pidie, Provinsi Aceh pada tahun 1930. Sayyid Ismail bin Abdul Wahab Al-Aydrus berhijrah ketika menduduki Sekolah Menengah Atas (SMA) ke Jakarta. Beliau merupakan putra dari Sayyid Abdul Wahab bin Mahmud Al-Aydrus, yang merupakan cucu dari Sayyid Ali bin Husein bin Ali al-Habsyi atau beliau ini lebih dikenal dengan nama julukan yaitu Tengku Chik Paloh Pidie.

Informasi dari keluarga Tengku Chick Paloh Pidie, membenarkan bahwa keluarga Sayyid Abdul Wahab merupakan saudara mereka. Muncul pertanyaan, Saudara seperti apa? Keluarga Al-Habsyi, memberikan penjelasan bahwa dulunya anak perempuan Sayyid Ali bin Husein bin Ali Al-Habsyi yang bernama Syarifah Petum binti Ali Al-Habsy dinikahkan dengan Sayyid Mahmud bin Ahmad Al-Aydrus. Dari perkawinan ini lahirlah beberapa orang anak diantaranya adalah Sayyid Abdul Wahab.

Menurut Informasi Keluarga Al-Habsyi tersebut disebutkan bahwa yang pertama sekali datang ke Aceh adalah Sayyid Ali bin Husein Al-Habsyi. Beliau datang ke Aceh untuk berdagang dan mensyiarkan Islam di Bumi Serambi Mekkah tepat didaerah Paloh Pidie sehingga beliau juga dikenal dengan nama Habib Cik Paloh Pidie.

Dalam beberapa tradisi masyarakat Aceh, bahwa seorang Sayid dari Hadramaut yang memiliki anak perempuan, tentunya akan menikahkan dengan yang sekufu dengan anaknya, dan mengetahui latar belakang keluarga calon menantunya. Jika Sayyid Ali bin Husein Al-Habsyi menikahkan anaknya dengan keluarga yang bukan Sayid dan tanpa mempertimbangkan sesama keturunan (sekufu) dan latar belakang adalah sangat tidak wajar dan bertolak belakang dengan tradisi keluarga Sayyid yang berasal dari Hadramaut. Dikarenakan bahwa para sayyid yang berasal dari Hadramaut pada umumnya memiliki Ghirah (semangat) ke keluargaan yang sangat besar dan sangat mencintai keturunannya.

Merujuk kepada hal diatas, jelas bahwa Sayyid Ali bin Husein Al-Habsyi tidak akan sembarangan menerima pinangan dari keluarga Sayyid mahmud bin Ahmad Al-Aydrus kalau beliau tidak mengetahui secara pasti keluarga tersebut. Hal ini tidak hanya berlaku pada Sayyid Ali bin Husein Al-Habsyi sahaja tetapi banyak para Sayyid-Sayyid yang tersebar diseluruh Indonesia pasti akan melakukan hal yang sama untuk menjaga nasab dan keturununnanya.

Tim Asyraf Aceh menelusuri lebih mendalam, mengenai asal usul Sayyid Mahmud bin Ahmad Al-Aydrus di daerah Pidie dengan cara mewawancarai beberapa anggota keluarga beliau. Menurut informasi dari Aja Kecik (Aminah) binti Husein Alaydrus yang berumur 80 tahun, menjelaskan bahwa kakek beliau yang bernama Sayyid Ibrahim bin Ahmad bin Idris bin Mahyuddin bin Umar bin Sayyidina Zainal Abidin As Syarif Husein (Syarif keumala) bin Abdullah merupakan saudara kandung dengan Sayyid Mahmud bin Ahmad Al-Aydrus.

Sayyid Ahmad bin Idris ini merupakan sepupu dari Sayyid Sulaiman bin Saleh alaydrus di Trienggadeng (Pendiri Mesjid Puduk di Trienggadeng), yang juga sepupu dengan Sayyid Sulaiman bin Hasan Al-Aydrus (Habib Itam) yang merupakan seorang tokoh alim di Gampong Gajah, Pidie dan juga bersaudara dengan Sayyid Husein bin Hasan alaydrus (Habib puteh). Hal tersebut diketahui, ketika ditemukan catatan silsilah anak cucu Sayyid Mahyuddin bin Umar Al-Aydrus tahun 1950 yang dicatat oleh Sayyid Sulaiman bin Daud Al-Aydrus di Caleeu, Pidie (Aceh).

Selain itu juga, Tim Asyraf Aceh melakukan wawancara pada Syarifah Aminah binti Husein bin Umar bin Ali al-Habsyi yang berumur 70 (tujuh puluh) tahun dan merupakan sepupu dua kali dari Sayyid Ismail bin Abdul Wahab Al-Aydrus. Beliau menjelaskan, bahwa “Keluarga Sayyid Ismail bin Abdul Wahab bukan qabilah dari Al-Habsyi tetapi Keluraga Syarif Keumala (Keluarga Al-aydrus Shalaibiyah). Beliau adalah saudara saya dari jalur nenek perempuannya (Syarifah Petum binti Ali al-Habsyi)”. Penjelasan yang sama juga dikemukakan oleh Sayyid Thaha bin Husein yang berumur 75 (tujuh lima) tahun.

Dimana Sayyid Thaha bin Husein Al-Habsyi dan saudaranya Sayyid Umar bin Husein Al-habsyi pernah membuat pernyataan yang menyatakan bahwa benar Sayyid Ismail bin Abdul Wahab Al-Aydrus adalah sepupu beliau yang jalur nasab adalah Sayyid Ismail bin Abdul Wahab bin Mahmud bin Zein bin Thaha bin Ali Al-Habsyi. Dimana pernyataan ini juga didukung oleh tiga orang anak Sayyid Salim bin Muhammad bin Ali Al-Habsyi, yang bernama Husein, Ahmad, dan Ali yang berdomisili di Jeddah, Saudi Arabia.

Tim Asyraf Aceh menjumpai Sayyid Thaha bin Husein Al-Habsyi di rumahnya di wilayah Kelender jakarta Timur untuk mengkonfirmasikan tentang hal tersebut, dan jawaban beliau bahwa as-Sayid Ismail bin Abdul Wahab Al-Aydrus bukanlah dari qabilah Al-Habsyi sebagaimana tersebut dalam pengakuan diatas, melainkan keluarga Al-Aydrus. Kami bertanya, Kenapa Paman (‘Ami) menandatangani surat pernyataan kalau Sayyid Ismail bin Abdul Wahab adalah keluarga Al-habsyi? Beliau memberikan jawaban, “Bahwa dia adalah saudara saya dari jalur neneknya, oleh karena itu saya tanda tangan”. Hal ini menunjukan bahwa Sayyid Thaha bin Husein Al-Habsyi sendiri mengetahui bahwa Sayyid Ismail bukan keluarga Al-Habsyi. Hasil pengamatan Tim Asyraf Aceh menunjukan bahwa Sayyid Thaha bin Husein Al-habsyi kurang memahami masalah nasab, hal ini juga menyebabkan beliau menandatangi surat pernyataan tersebut tanpa melakukan pengkajian terlebih dahulu.

Pada sisi lain, Sayyid Ismail bin Abdul Wahab Al-Aydrus meyakini dirinya Al-habsyi juga berdasarkan surat yang ditanda tangi oleh anak dari Sayyid Salim bin Muhammad bin Ali Al-Habsyi di Jeddah, yang mana mereka seharusnya tidak menandatangi surat tersebut sehingga tidak menimbulkan kesalah pahaman nasab dari pada sayyid ismail bin Abdul Wahab Al-Aydrus. Untuk meluruskan hal ini Tim Asyraf Aceh telah melakukan sosialisasi untuk meluruskan permasalahan tersebut diantaranya Seminar di Beureunun yang di buat oleh Lembaga Asyraf Aceh untuk meluruskan masalah ini.

Hal ini juga dipertegas oleh kesaksian Sayyid Zainal Abidin bin Abu Bakar Al-Bahsein yang berumur lima puluh tahun (50 tahun). Beliau menyatakan bahwa keluarga ini adalah benar dari keluarga Alaydrus Syarif Keumala. Menjadi jelas bahwa, Sayyid Ali bin Husein Al-Habsyi menikahkan anak perempuannya kepada keluarga Alaydrus Syarif Keumala, bukan menikahkan anaknya dengan seorang India atau bukan Sayid.

  1. Tidak Boleh Menggunakan Speaker

Dalam menjalani misi dakwahnya Habib Ahmad bin Ismail Al-Aydrus selain mendapatkan fitnah juga mendapatkan ganguan dari penduduk setempat dimana melarang beliau menggunakan speaker ketika membaca maulid. Dalam Masyarakat Cibeduk ada yang tidak memperbolehkan penggunakan pemakain speaker untuk Maulid atau untuk kegiatan agama lainnya dikarenakan oleh pemahaman ini bersifat bi’ah.

Tetapi hal ini dapat di atasi dengan lemah lembut dan kelebihan-kelebihan yang ada pada diri beliau sehingga masyrakat disekitar majelis beliau berbalik arah yang dahulunya melarang menggunakan speaker dan membeci sekarang menjadi cinta kepada Habib Ahmad bin Ismail Al-aydrus.

  1. Mau di Bunuh dan di Santet

Cobaan dalam dakwah beliau tidak hanya berhenti di sebatas pelarangan penggunaan speaker tetapi juga sampai ancaman mau di bunuh dan di santet juga sering beliau dapatkan pada saat awal mendirikan Majelis Ratib Habib Ahmad Al-Aydrus. Tetapi hal ini tidak mempengaruhi beliau dalam menjalan perintah Allah dan Rasul-NYA untuk menegakkan kalimat Syahadat serta untuk menengakkan amar ma’ruf nahi mungkar di seluruh jagad raya.

Pengaruh Habib Ahmad Al-Aydrus di Tanah Jawa 

Habib Ahmad bin Ismail Al-Aydrus secara rutin membuat Maulid Akbar Rasulullah SAW di setiap tahunnya di Majelis beliau di Kampung Babakan Desa Cibedug Kec.Ciawi, Tapos-Bogor, Jawa Barat. Selain di majelis beliau juga membuat Maulid Akbar di beberapa Pondok Pesantren diantaranya Al-Fatimah Bojonegoro, Jawa Timur dibawah pimpinan H.Tamam Syaifuddin. Yang mana pada dasarnya maulid di Bojonegoro ini buat pertama sekali ditempat H.Dedy Fahmi bin H.Muzakkir dikarena sudah tidak memungkinkan lalu dipindahkan ke Pesantren Al-Fatimah.

Beliau juga sangat dihormati dan disegani oleh para Kyai dan Ulama di Tanah Jawa serta Madura diantaranya : RKH. Fakhrillah Aschal dari Pesantren Syaichona Moh. Cholil di Bangkalan – Madura. Di Pasentran ini juga Habib Ahmad bin Ismail Al-Aydrus juga membuat Maulid Akbar yang di hadiri oleh ribuan orang.

Beliau juga membuat Maulid Akbar di Pasentren Pimpinan KH.Nasiruddin dari Ponpes Darut Tauhid Al-Hasaniyah di Tuban dan di Pasantren dibawah pimpinan Alm. KH.Abdullah Faqih dari Ponpes Langitan, Tuban (Jawa Timur), Ponpes Al Anwar di bawah asuhan KH.Maimun Zubair di Sarang-Rembang (Jawa Tengah) dan masih banyak lagi para ulama dan kyia yang tidak dapat disebutkan satu persatu di dalam tulisan ini.

Sebagai kesimpulan penulis teringat ucapan beliau yang menunjukan betapa besar wibawa dan kemulian akhlak Habib Ahmad bin Ismail Al-Aydrus yaitu “ Aku dilahirkan untuk menggembirkan hati semua manusia, jika orang bergembira dengan cara menfitnahku, maka aku menyuruh mereka terus menerus menfitnahku supaya hati mereka mendapat kegembiraan atas cara menfitnahku “. Dan juga beliau mempunyai banyak cara untuk membantu fakir miskin dengan cara-cara yang baik dan santun.