Anggota tubuh diperban, bagaimana wudlunya?

Paramedis yang berinteraksi dengan pasien muslim seringkali mendapat masalah maupun pertanyaan mengenai tata cara sholat berdasarkan keadaan yang sedang dialami oleh pasien tersebut, misalnya pasien dengan fraktur, karena kecelakaan, maupun karena luka bakar yang sebagian atau seluruh tubuhnya diperban. Berikut penjelasannya:

Bab Shohibul Jaba’ir

Definisi Jaba’ir (jamak) berasal dari kata Jabiroh, berarti pembalut yang dipasang dan dilekatkan pada bagian tubuh yang retak, pecah, patah, terluka, atau terlepas agar segera pulih kembali.

Kriteria benda yang dimaksud Jabiroh adalah suatu hal yang dapat menghalangi sampainya air ke kulit, diantaranya adalah perban, gips, krim, pembalut, darah yang menggumpal dan mengeras.

Pertanyaan yang sering muncul:

Apakah boleh meninggalkan sholat bagi pasien yang masih sadar tetapi seluruh tubuhnya diperban?

Tidak boleh, wajib hukumnya untuk sholat jika masih sadar walau dalam keadaan apapun. – QS. al-Hajj (22): 78; QS. an-Nur (24): 61

Seluruh tubuh diperban, bagaimana bersucinya?

Jika perban yang ada pada wajah dan kedua tangan mampu dilepas, maka wajib dilepas untuk ditayamumi. Jika tidak mungkin dilepas, maka diperbolehkan melakukan sholat tanpa harus bersuci terlebih dahulu, dengan catatan menurut Jumhur Ulama pasien tersebut wajib mengqadlai sholatnya setelah sembuh. Tetapi menurut Imam al-Muzani dan imam an-Nawawi setelah sembuhnya luka, sholat yang sudah dilakukan tersebut tidak wajib untuk diulangi (qadla) lagi. – Kitab Syarqawi ‘ala Tahrir Juz 1: 97


Tata Cara Bersuci bagi Shohibul Jaba’ir

Menurut jenis luka dan cara membalut lukanya:

  • Jika lukanya diikat menggunakan perban, maka ada tiga hal yang wajib dilakukannya:
  • Membasuh bagian (anggota) yang sehat,
  • Mengusap perban atau kain yang menutupi tempat yang sakit. Mengusap dimaksudkan sebagai ganti membasuh bagian anggota yang sehat yang biasanya juga tertutupi oleh perbannya. Namun jika perbannya hanya menutupi bagian yang sakit saja dan tidak menutupi bagian yang sehat, maka ia tidak wajib mengusap perbannya. Demikian pula bila ia mampu membasuh bagian yang sehat yang ada di bawah perban, maka ia tidak wajib mengusapnya.
  • Tayamum sebagai ganti membasuh anggota yang sakit.
  • Jika anggota yang sakit itu tidak diikat dengan perban, maka ia hanya wajib membasuh anggota yang sehat dan bertayamum sebagai ganti membasuh anggota yang sakit. Dengan demikian, ia tidak wajib mengusap tempat sakit dengan air.
  • Jika anggota yang sakit atau lukanya itu terbuka dan tidak memungkinkan untuk membasuhnya, maka ia wajib mengusapnya karena tidak ada artinya mengusap ketika itu, dan tayamumnya itu telah menduduki kedudukan membasuh anggota tersebut.
  • Jika luka atau sakitnya tersebut berada di anggota tayamum dan tidak mungkin baginya mengusap anggota itu dengan debu, atau mengusapnya tersebut bisa membahayakannya, maka mengusap itu menjadi gugur darinya, dan ia wajib mengulangi sholatnya ketika ia telah sembuh dari keadaan itu. – al-Fiqh ‘Alal Madzahibil Arba’ah Juz 1/168-169.


Referensi:

Agus Arifin. 2012. Fiqh untuk Para Profesional: Panduan Menjalankan Ibadah dalam keadaan Darurat. Jakarta: Gramedia

Santri Salaf Press. 2014. Ngaji Fiqih: Untuk Bekal Kehidupan Dunia-Akhirat. Kediri: Lirboyo Press


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s